Rabu, 27 Juli 2011

Kejutan!

Diantara sekian banyak orang mungkin saya termasuk sebagian yang tidak begitu menyukai kejutan. Ada beberapa hal yang tidak membutuhkan alasan, seperti suka-tidak suka, nyaman-tidak nyaman. Dalam hal ini sebernarnya saya juga tidak punya alasan spesifik kenapa saya tidak menyukai kejutan.

Saya tidak menyukai apapun yang tidak dapat saya kendalikan, dan kejutan jelas-jelas ada diluar kendali saya.

Hanya itu :)

Senin, 11 Juli 2011

Tentang "Move On"

Belakangan kata-kata move on sering sekali beredar di telinga maupun trucap dari mulut saya. Maklum, sedang banyak pemuda (yang menurut istilah populer belakangan) galau di sekitar saya. Rasanya hampir tiap hari saya mendengar dan tidak jarang pula saya berujar, "ayo dong, semangat! Movin' on yuk! Kamu pasti bisa kok" atau kata-kata lain yang merujuk pada tujuan dan kepentingan yang sama.

Menurut pengamatan (dan pengalaman) saya, yang paling penting saat kamu berikrar untuk move on adalah keteguhan hati. Anggaplah move on adalah cita-citamu, nah, keteguhan hatilah yang membawa kamu berhasil meraihnya. Dengan berteguh hati kamu akan mengupayakan apapun untuk dapat mengantarmu meraih cita-cita tadi, kamu akan bekerja keras, berdoa, dan pastinya berusaha sebisa mungkin tidak terbawa arus yang bisa saja menyeretmu jauh dari impianmu tadi.


Kamu adalah seseorang yang sedang mendayung dengan perahu kecilmu di sungai yang berair cukup deras dan berbatu yang adalah alasanmu untuk move on. Dayung dan perahumu inilah keteguhan hatimu, modalmu. Kamu tidak sendirian, ada pendayung lain di sekelilingmu. Mereka inilah yang kamu sebut teman, sahabat. Tujuan akhirmu dan yang lainnya adalah hilir sungai yang tenang, cita-citamu.


Kadang arus yang lewat terlalu deras untuk kita sehingga perahu yang kita tumpangi terbalik dan kita pun jatuh. Beruntunglah kamu punya pendayung lain, sahabat yang akan membantumu kembali ke perahumu saat kamu terjatuh sehingga mampu berjuang lagi untuk move on.

Sayangnya ada suatu ketika dimana tenaga teman-temanmu tidak cukup kuat untuk membantumu bertahan. Saat itulah kamu membutuhkan uluran tangan seseorang dari tepian untuk menarik perahumu keluar dari sungai.

Pada awalnya kamu berontak karena merasa tujuan akhirmu tidak akan tercapai jika kamu keluar dari sungai tadi, bahkan berniat untuk menyeburkan diri ke sungai dan kembali bertarung dengan derasnya jeram. Pada akhirnya seseorang tadi menjelaskan bahwa untuk mencapai hilir sungai kamu tidak perlu berjibaku dengan sungai, bebatuan, dan arusnya. Kamu hanya perlu mengikutinya dengan cara keluar dari sungai, berjalan lewat jalan setapak yang lebih nyaman, dan sampailah kamu di hilir sungai.

Cita-citamu tercapai lewat jalan yang lebih aman, mudah, dan menyenangkan karena bantuan seseorang tadi.

Semestinya

Tidak semua hal harus berjalan semestinya, seperti apa yang kita inginkan dan mungkin juga apa yang orang lain prediksikan. Bahkan ada kalanya kita justru (harus) bersyukur karena ada yang tidak bejalan semestinya.
Hari ini contohnya. Mestinya saya marah, kecewa, sakit hati, dan terlihat sangat manusiawi jika saya merasa DENDAM. Tapi nyatanya saya tidak merasa seperti itu.
Mungkin sebagian sahabat yang mengetahui kisah-dua-tahun saya akan heran dan berpikir, "bagaimana bisa kamu memaafkaannya?" Tapi jujur saja, saya juga tidak tahu mengapa saya dapat memaafkannya. Yang saya tahu adalah semua sudah berlalu. Saya punya kehidupan sendiri sekarang, dan saya rasa dia juga sudah sibuk dengan "mainan" barunya. Lagipula kisah-dua-tahun saya sudah cukup lama berlalu. Buat apa saya menyimpan luka? Luka seharusnya diobati, bukan disimpan, dibiarkan saja untuk jadi kenang-kenangan. Menurut saya.

Saat kamu sudah berhasil memaafkan seseorang, siapapun dan seberapa besarpun makna orang tersebut untuk kamu (di masa lampau), yang tersisa hanyalah rasa kasihan dan simpati atas segala tindakannya yang bersinggungan denganmu, bukan lagi rasa marah, kecewa, dendam, bahkan tersakiti.
Dan saat itulah tanda bahwa kamu sudah berdamai dengan dirimu sendiri, dengan masa lalummu :)

Jadi dalam hal ini, berbahagialah saya karena perasaan saya tidak berjalan semestinya.

Minggu, 29 Mei 2011

Lirik Lagu Gombal

Why do stars fall off from the sky
Everytime you walk by?
Just like me, they long to be,
Close to you
-Close To You-



You said ‘hello’
And I turned to go
But something in your eyes
Left my heart beating so
I just knew that I’d love again
After a long long while
I’d love again
-Beautiful Girl-



And if we had babies they would look like you
It’d be so beautiful if that came true
You don’t even know how very special you are
-Breathless-



You're a falling star
You're the get away car
You're the line in the sand when I go too far
You're the swimming pool on an August day
And you're the perfect thing to say
-Everything-



Since I found you my life begin so new
Now who needs a dream when there is you
For all of my dreams came true
-Since I Found You-




Sabtu, 28 Mei 2011

Arga dan Koran Bekas

Selama ini keluargaku terbiasa mengumpulkan koran dari langganan kami tiap hari. Koran-koran tadi biasanya akan diambil oleh salah satu aktivis Gejera untukdijual dan hasilnya akan disalurkan untuk sebuah panti asuhan di Surabaya. Sebelum diambil, koran tadi ditumpuk di gudang lantai dua hingga bergunung-gunung banyaknya.

Tadi sore, disaat orang rumah sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, datanglah seorang tukang rombeng ke rumah dan menanyakan apa ada koran bekas yang mau dirombeng apa tidak.

Mbak Lia, kakak sepupu, lagi sibuk nyapu di depan rumah melihat Arga bolak-balik keluar masuk rumah sambil membawa tumpukan koran bekas. Koran-koran tadi diberikan kepada Pak Rombeng lalu Arga diberi uang Rp 7000,00 dan Pak Rombeng tadi pergi (sambil membawa koran-koran tadi tentunya).

Arga segera masuk ke rumah dan menaruh uang Rp 7000,00 tadi di dompet belanja dan dengan bangganya bilang sama mama, "Ma, tadi korannya tak jual. Aku dapet uang Rp 7000,00 Tadi korannya 7 kg."

Mama keget dan heran karena Arga menjual koran bekas yang pada mulanya akan diambil untuk keperluan panti asuhan, dan dengan harga cuma Rp 1000,00 / kg pula (biasnya koran bekas dijual Rp 1500,00 / kg).

Saat makan malam, mama dan kakak menceritakan kejadian tadi dan sambil malu-malu Arga ikut tertawa saat kami menertawakannya.

Dasar Arga!

Ini dia Arga, adik saya yang baru berumur 6 tahun :p
*foto ini diambil saat Arga berumur 5 tahun


Kilas Balik (I)


     Tulisan ini saya buat sesampainya di rumah, beberapa hari setelah mengikuti rekonsiliasi di Kalasan bersama teman-teman kelas XII SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Rekonsiliasi inilah yang membangunkan, menyadarkan saya bahwa masa-masa SMA saya sudah hampir berakhir. Tiga tahun terasa begitu cepat dan tanpa sengaja sudah membentuk saya menjadi pribadi yang (semoga) lebih baik dari sebelumnya.
            Tidak seperti teman-teman kebanyakan, saya menghabiskan masa SMA saya di perantauan, jauh dari orang tua (sedikit berlebihan sih), dimana lingkungan SMA saya adalah lingkungan yang homogen (sekolah cewek semua) dan saya hidup di asrama. Keadaan yang kompleks tadi awalnya sungguh merupakan mimpi buruk dan perjuangan yang amat sangat berat walaupun saya sendiri yang memilih untuk mencemplungkan diri di Jogja (tanpa paksaan orang tua atau siapapun lho). Mulai dari adaptasi seragam putih biru jadi seragam abu-abu, terpaksa berubah dari anak mami yang manja jadi anak yang harus mandiri biar bisa tetap hidup layak, menjaga manner saya yang dirasa sedikit lebih kasar dari orang jawa kebanyakan (saya besar di Sidoarjo, Jawa Timur) agar tidak bentrok dengan kakak kelas (dan kakak asrama), sabar menahan diri menghadapi suster-suster sarama yang baiiiik tapi kadang menyebalkan, tugas-tugas yang nggak tahu diri, blablablaaa. Tidak jarang saya menangis dan berpikir untuk menyerah karena terlalu capek dengan keadaan yang terlalu cepat berubah, tapi beruntunglah saya karena saya memiliki sahabat yang rasanya tidak pantas lagi disebut sahabat karena mereka semua adalah SAUDARA :)


Rina Karina Kurniawan


   Saat pertama kali sampai Jogja dan asrama Rinalah orang yang pertama kali saya lihat. Saya sedang sibuk menurunkan barang dari mobil dan pada saat bersamaan Rina juga baru saja tiba dengan taxinya. Kami berjalan beriringan masuk asrama. Sambil berjalan Rina mengajak saya berkenalan, lalu kamipun berkenalan seadanya. Kenapa seadanya? Karena saya sedang bad mood dan mungkin Rina menyadari wajah saya yang angker dan (sedang) tidak bersahabat. Untung saja kesan pertama yang buruk tidak terus berlanjut karena ternyata kami mendapat unit yang bersebelahan.
            Pada mulanya banyak yang susah membedakan kami, bahkan Sr. Yosefa, suster asrama sering salah memanggil nama kami. Ya, saat itu kami cukup mirip dalam beberapa hal, seperti rambut, postur tubuh, hingga wajah. Tapi itu duluuuuu dekali, awal kelas X! Sekarang? Voilaaa, yang satu tumbuh ke atas dan ke samping (walau dominan melebar :p) sedangkan yang lainnya makin melebar tanppa pernah bertambah tinggi (tragis!)


Bernadetta Diajeng Ayu Hardanti



Inilah teman saya di unit 16 saat kelas sepuluh J Bisa dibilang Ajeng termasuk salah seorang yang mengalami krisis identitas. Tidak seperti saya, Rina, atau lainnya yang dengan mantap menjawab “Sidoarjo, Makassar, blablabla” saat ditanya mengenai asal daerah, Ajeng selalu menjawab “Asal SMP dari Tulungagung, tapi sekarang sudah pindah ke Solo”. Belum lagi kebanyakan orang akan kembali bertanya “Tulungagung itu di mana ya?” lalu dengan narsisnya Ajeng mempromosikan Tulungagung sebagai daerah penghasil marmer nan kaya di Jawa Timur sana.
Dibalik tampangnya yang tanpa ekspresi ternyata dia kecil-kecil cabe rawit! Siapa sangka badan dan muka imut gini doyan sama drum serta game online penghabis uang, dan nggak takut berantem, dikejar-kejar sampai Jogja sama PREMAN TULUNGAGUNG! Beruntunglah sejak di Jogja Ajeng tobat mainan game online karena paksaan dari kita.


Fransisca Steffi Heindradi

Kesan pertama kenal cicik ini jutek dan aneh! Inget banget lirikan di balik kaca mata ala cat woman pas di meja makan aula waktu kenalan pertama kali. Astaga seremnyaaaa! Belum lagi kebiasaan anehnya bawa sapu tangan handuk kecil kemana-mana padahal kayaknya juga nggak ada guna, nggak tau dipakai buat apa. Hahaha! Awal kelas X Tepi hobi banget bergaya emo (padahal aslinya manjaaaaaa banget! Hha!), tapi sekarang jadi lebih feminine dan bahkan nggak jarang naluri ciciknya muncul (Ampun, Tep!) Satu lagi, ternyata Tepi gudang novel! Waaaaaah, klop deh kita. Mulai dari Sita Karina, Agnes Jessica, dll semua diembat. Jadilah kita sering barter novel :D

Rabu, 08 September 2010

Dikutip dari 5 cm




“A woman’s heart is deeper than the ocean for a secret.”

Kate Winslet-Titanic


“Man gotta do what man gotta do!”


“You may say I’m adreamer but I’m not the only one.”

John Lennon-Imagine


“Everyman dies not everyman really lives.”

Mel gibson-Braveheart


“I.. Just run!”

“Tom Hanks-Forrest Gump


“For a revolution, it’s one triumph or die.”

Che Ghuevara


“I’m gonna love you till the heaven stops the rain.”

Jim Morrisson-The Doors


“If you lost.. You can look and you will find me time after time.”

Cindy Lauper-Time After Time


“All my life changing everyday in every possible way.”

The Cranberries-Dreams


“I’ve been looking so long at these pictures of you

That I almost believe that they’re real

I’ve been living so long with my pictures of you

That I almost believe that the pictures are all I could feel.”


“Cogito Ergo Sum – Aku berpikir maka aku ada.”

Socrates

Renungkan

Mula-mula, kita membentuk

kebiasaan kita;

lama-kelamaan.

kebiasaan kitalah yang

membentuk kita.

-PUJANGGA INGGRIS-

Kalau siapa saya

adalah tergantung pada

apa yang saya punya,

dan apa yang saya punya

sudah hilang,

lalu,

saya ini siapa?

-ANONIM-

“Yang tragis adalah

orang yang

seumur hidupnya

tidak pernah

mengerahkan

seluruh

kemampuan

maksimalnya.”

-ARNOLD BENNETT-

Manusia bisa bahagia

atau tidak

adalah

tergantung pilihannya sendiri.

-ABRAHAM LINCOLN-

Pertanyaan paling mendesak

dalam hidup ini:

Apakah yang kamu perbuat

bagi orang lain?

-MARTIN LUTHER KING JR.-

Dengarkanlah,

kalau tidak,

lidahmu akan

membuatmu tuli.

-PEPATAH SUKU PRIBUMI

AMERIKA-

Perbedaan-perbedaan

menciptakan tantangan

dalam hidup

yang membuka pintu

menuju penemuan.

-ANONIM-

Waktu

memperbaiki atap

adalah

di kala matahari

terik.

-JOHN F. KENNEDY-

Jangan sampai ada

orang yang datang

kepadamu tanpa

menjadi lebih baik

atau lebih bahagia

setelah itu. Jadilah

ungkapan

kemurahan Tuhan:

kemurahan di

wajahmu,

kemurahan di,

matamu,

kemurahan pada

senyummu.

-IBU TERESA-


Jadi, pastikanlah kalau

melangkah.

Melangkahlah hati-hati

dan taktis.

Dan ingatlah bahwa hidup

adalah soal Memelihara

Keseimbangan

Dan apakah kamu

akan sukses?

Pasti!

(98,3/4% dijamin)

Nah, kamu bisa

menggeser gunung.

-DR. SEUSS-

Minggu, 22 Agustus 2010

Freakin' Earthquake

Sabtu, 21 Agustus 2010
Seperti malming-malming sebelumnya, kita tetep nggak tau musti ngapain. Terlalu banyak rencana tepatnya. Gale-lah, Shopping-lah, Phuket-lah tapi ujung-unjungnya kita ke Dixie. Aneh, kan? Diluar opsi kita saat itu.
Dengan kantong dan dandanan seadanya kita ke Dixie. Ternyata Dixie ramai banget!

18.30 WIB, 2nd floor Dixie Gejayan
Aku, Maria, Ajeng, Monic, Tepi lagi nungguin makanan sambil sibuk masing-masing. Aku sibuk perhatiin Jalan Gejayan yang ramai tapi normal untuk ukuran malming, Monic sama Tepi sibuk sama majalah, Ajeng sibuk sama hape barunya, dan Maria autis sama Ito-nya). Posisi kita di pojokan saat itu, deket kaca.

Sekitar pukul 19.00 WIB
Masih sibuk sama aktivitas masing-masing.
Tiba-tibaaa... Kok meja sama lantainya getar ya?
Orang-orang panik. Lantai dua yang tadinya emang gaduh jadi makin gaduh karena orang-orang pada teriak, “Gempaaaa, gempaaaaa!” Refleks kita berdiri dan pegang hape sama dompet masing-masing. Dari tempat itu kita bisa liat beberapa mobil yang lagi melaju kini menepi dan orang-orang yang ada di lantai satu berhamburan dan menatap bangunan Dixie dengan ngeri.
Bumi masih bergetar.
Orang-orang makin panik. Ada yang lari turun tangga (Ok, that was a bad idea!), ada yang teriak-teriak histeris, ada yang tiarap di kolong meja (Ini baru betul!), dan ada yang dengan bodohnya cuma berdiri-bengong-pucet-nggaktaumaungapain, kita.
Getaran berhenti.
Kita masih berdiri-bengong-pucet-nggaktaumaungapain. Orang-orang mulai tenang dan kembali ke tempat duduk dan aktivitas masing-masing, bahkan mbak-mbak yang ngumpet di kolong meja tadi juga sudah berdiri dan dengan cool-nya ngerapiin dandanan yang sempat kacau. Kita? Masih berdiri dengan tangan dan kaki yang gemetar dan muka pucat, terutama Tepi.
Setelah duduk dan kesadaran kembali, kita pegang hape masing-masing. Kasih kabar ortu dan sanak saudara (dan pacar), buka facebook dan twitter (sempat-sempatnya).
5 SR dengan kedalaman 10 km di darat rupanya, pantesan kenceng. Jalan Gejayan yang mulanya masih normal untuk ukuran malming jadi penuh, hampir macet. Monic masih panik. Maklum, dia trauma sama gempa Jogja 2006 lalu. Nggak selang lama gempa Jogja kali ini sudah nangkring di Trending Topik. (Zzzzzzz -.-) dan banyak situs berita online yang ngabarin gempa ini. Seandainya nggak cuma heboh pasca-gempa aja yang cepet beredar, tapi juga earthquake warning-nya. Ngarep.

Ada tips bagus dari mamanya Tepi pas ngadepin gempa di restoran, angkat piring lalu kabuuuuuur! Nah, kalau gitu kan jadi gratisan :D

Rabu, 11 Agustus 2010

Dengarkanlah

Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah menasihati aku,
kamu tidak memberikan apa yang ku minta.

Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah mengatakan mengapa
aku seharusnya tidak merasa seperti itu,
kamu menginjak-injak perasaanku.

Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah merasa punya
sesuatu untuk mengatasi masalahku,
walaupun tampaknya aneh,
kamu sungguh mengecewakan aku.

Dengarlah!

Yang kuminta hanyalah agar
kamu mendengarkan.

Jangan bicara
atau berbuat – dengarkan saja.


-7 habbits-

Senin, 28 Juni 2010

Diambil dari Buku 7 Habbits



Ketika aku masih kecil dan bebas,

dan imajinasiku tidak ada batasnya, aku

mengimpikan untuk mengubah dunia;

Ketika aku semakin besar dan

semakin bijaksana, aku sadar bahwa

dunia tak mungkin diubah.

Dan aku putuskan untuk mengurangi

impianku sedikit dan hanya mengubah

negaraku. Tetapi itupun tampaknya

tidak mungkin.

Ketika aku memasuki usia senja,

dalam suatu upaya terakhir, aku berusaha

mengubah keluargaku sendiri, mereka

yang paling dekat denganku, tetapi sayang,

mereka tidak menggubrisku.

Dan sekarang menjelang ajal, aku sadar

(mungkin untuk pertama kalinya) bahwa kalau

saja aku mengubah diriku dulu, lalu dengan

teladan mungkin aku bisa mempengaruhi

keluargaku, dan dengan mendorong serta

dukungan mereka mungkin aku bisa membuat

negaraku menjadi lebih baik, dan siapa tahu,

mungkin aku bisa mengubah dunia.

Foot Print in The Sands


One night
I had a dream, I
was walking along the
beach with The Lord; and
across the skies flashed
scenes from my life. In each
scenes I noticed two sets of foot
prints in the sand and to my surprise,
I noticed that many times along the
path of my life there was only one
set of foot prints. And I noticed that
it was at the lowest and saddest
times in my life. I asked The Lord
about it. Lord you said that once
I decided to follow you, you
would walk with me all the
way. But I noiced that
during the most trouble
sometimes in my life
there is only one set of
foot prints. I don’t under-
stand why you left my side
when I needed you most
The Lord said: “My precious
child, I never left you during
your time or trial where
you see only one set
of foot prints. I was
carrying you.”

Rabu, 26 Mei 2010

Peringatan

Kamu tahu, kan arti kalimat mendapatkan jauh lebih mudah daripada mempertahankan? Kamu tahu, kan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sudah kamu dapatkan dengan penuh perjuangan? Kamu juga tahu, kan berapa harga yang harus dibayar untuk menebus kesempatan kedua yang mahal? Harus semua terulang lagi, kah?

Apa perlu aku memberitahumu bagaimana sakitnya dilepas begitu saja? Apa perlu aku memberitahumu bagaimana lelahnya menerka? Apa perlu aku memberitahumu bagaimana sulitnya mencari serpihan yang tercecer? Apa perlu aku memberitahumu bagaimana kesalnya hanya berdiri sebagai penonton pasif, hanya dapat melihat dan mendegar apa yang terjadi, sedangkan komentar, protes, atau apapun yang keluar juga tak akan didengar dan tersampaikan?

Sepertinya kamu belum banyak belajar dari pengalaman. Kamu harus banyak belajar bagaimana cara mempertahankan! Mungkin kesempatan kedua tersedia untukmu, tapi bagaimana dengan yang ketiga? Jangan banyak berharap!

Begitu bebal dan bodohnya jika nanti kamu kehilangan lagi yang sudah kau gengam sebelumnya namun sempat terlepas. Begitu egoisnya jika nanti kamu mengorbankan perasaan sekitarmu, bahkan mematikan hatimu demi pemikiranmu yang mati. Apa kamu tidak merasa lelah terus menerus mengenakan topeng sekaligus perisaimu yang selalu berkata, "Semua baik-baik saja. Aku hanya ingin minta maaf dan berterima kasih"?

Bukan berarti aku menuntutmu melakukan ini-itu. Jangan pernah berpikir aku memberi. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Bertindak sesuai dan untuk hati dan rasioku, bukan untukmu atau siapapun. Aku hanya mengingatkanmu bahaya bermain peran!

Kamis, 06 Mei 2010

Maaf?

5 Mei 2010 pukul 21.00
Bel tanda jam belajar berakhir berbunyi. Di hadapan saya tersedia hidangan yang sangat lezat dan mampu menghangatkan otak saya dari udara dingin yang diakibatkan hujan sore harinya, buku paket dan LKS PKn. Ya, besok saya ulangan. Belum begitu malam memang, tapi aku sudah amat ngantuk dan lelah. Asrama yang tenang (sebelumnya aku jarang menemukan ketenangan seperti ini di sini) ditambah udara sejuk benar-benar mengiringku untuk naik ke atas kasur dan meninggalkan semua materi PKn yang harus ku jamah. Pukul 21.40. Aku memutuskan untuk menyudahi pertarungan dengan PKn dan mulai merangkak di bawah selimut ku yang hangat.

Pukul 21.52
Nokia ku bergetar. Ada SMS masuk. Aku tersenyum saat membaca nama yang mucul pada layar. Dia rupanya. Senang sekali rasanya karena selama beberapa hari ini kami tidak berkomunikasi lewat media apapun (lagi-lagi) karena alasan klise, sibuk.


"Maafin aku, ya..
Kalo aku udah banyak salah sama kamu..
Aku udah nyakitin kamu jauh lebih dari sakit-sakit biasa..
Maaf aku pernah mampir dihidup kamu..
Pernah jadi bagian kecil dihidup kamu..
Maaf.."



Akua bergetar membacanya..
Ada sesuatu yang salah.

Kenapa tiba-tiba permintaan maaf ini muncul?
Apa yang harus dimaafkan?
Apa yang buat kamu minta maaf?

Aku kira semua sudah berakhir dan sudah dimulai lagi.
Artinya semua sudah termaafkan.

Bukan bermaksud berprasangka buruk sama kamu. You are trying to hide something now. I know 'cause I have strong feeling enough. Semua yang terlintas di hadapan ku cukup menggambarkan bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres. Aku nggak maksa kamu buat cerita semua ini, apalagi sekarang. I just want you to know that I'm here and waiting for your share.


Waktu hampir 3 tahun bukan waktu yang singkat buat aku kenali kamu. Aku juga cukup tahu perasaannya karena ia pun cukup gamblang mengekspresikan dirinya lewat media yang jelas-jelas aku ada di sana.

Selasa, 04 Mei 2010

Terulang Lagi?

Salah, jika saya hanya ingin tahu apa yang sedang berputar di sana?
Salah, jika saya hanya ingin tahu siapa yang sedang menyikut saya?
Salah, jika saya hanya ingin tahu siapa Anda?
Salah, jika saya hanya ingin tahu apa yang Anda perbuat?

Lewat cara yang serupa saya mengetahuinya. Ini bukan kali pertama, tapi saya yakin ini bukan yang tearkhir pula. Walaupun begitu, pertanyaan saya tetap sama dan ternyata masih belum terjawab. Ada apa sebenarnya?

Saya kira semua sudah berakhir dan sedang dimulai sesuatu yang baru. Tapi ternyata..

Rabu, 14 April 2010

Bukan Maksud Sok Nasionalis

Suatu ketika saya, steffi, dan ajeng sedang sarapan di warung sebelah asrama. Ternyata ramai, banyak adik asrama saya yang juga sedang sarapan di sana. Ya, hari itu kami kelas X dan XI libur karena kelas XII ujian sekolah. Untung saja kami masih kebagian tempat. Setelah beberapa saat menunggu, makanan kami tiba. Sambil makan kami mendengarkan adik-adik yang sedang berdiskusi.

****

"Kata papaku, kalau ngambil S1 di luar, nanti susah cari kerja di dalem (Indonesia :Red)"

"Makanya, S1 di sini dulu nanti ngambil S2 di luar, terus cari kerja dan netap di sana. Kalau perlu pindah kewarganegaraan sekalian."

"Hahahahaa! Iya ya.. Hmmm.. Aku pingin jadi warganegara Perancis! Kayaknya gimana gitu."

"Eh, tapi kayaknya pindah kewarganegaraan di Indonesia tuh ribet nggak sih."

"Iya, Indonesia ini apa-apa dipersulit!"

"Bukan dipersulit, tapi diperduit! Hahahaaa!"


****

Itulah sepenggal obrolan yang saya dengar. Ironis. Generasi muda tidak lagi cinta dengan bumi pertiwinya padahal kamilah yang memegang penting masa depan bangsa. Memang masih banyak pemuda yang nasionalis, tapi yang apatis juga banyak, dalam kasus ini contohnya. Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau generasi mudanya lari ke negeri tetangga yang (katanya) lebih elok?

Generasi muda yang (katanya) kritis harusnya jangan hanya mencibir kondisi bangsa saat ini, tapi ayo kita perbaiki agar bangsa ini sesuai dengan yang kita harapkan!

Minggu, 11 April 2010

Ada Apa?

Saya terdiam di atas kasur sambil menatap langit-langit ruangan dengan mata menyipit karena silau tertimpa sinar lampu yang tergantung ditengahnya. Sunyi. Sudah tidak ada aktivitas lagi di luar sana rupanya, bahkan sayup suara televisipun tidak lagi saya dengar. Satu-satunya bunyi yang sampai gendang telinga saya hanya suara putaran kipas angin. Tentu saja suara keypad telepon genggam yang sedang saya gunakan untuk menulis catatan ini tidak termasuk.

Pukul 23.17 saat ini dan lagi-lagi saya masih segar bugar. Ya, sama sekali saya belum mengantuk. Memejamkan mata, mendengarkan instrumen musik klasik, dan sit up hingga perut saya kram ternyata belum mampu menurunkan tingkat kesadaran saya. Saya benci saat-saat macam ini dimana saya masih terjaga padahal semua sudah terbuai dalam dunia masing-masing tanpa penetrasi dari manapun. Mengapa? Karena situasi ini memberikan saya kelonggaran untuk memikirkan semua hal yang sama sekali tidak layak untuk saya angkat ke permukaan! Saya benci hal ini!

Beberapa saat yang lalu ia datang dan saya amat yakin jika kedatangannya dimaksudkan untuk tujuan tertentu yang saya tidak tahu apa itu. Bahkan ia mulai berani untuk memancing saya membuka sebuat peti yang selama ini saya simpan rapat-rapat. Ada apa ini? Beritahu saya apa yang sebenarnya terjadi! Saya sudah amat lelah terjebak dengan segala pertanyaan yang saya lontarkan tanpa ada yang menjawab.

Beruntung saya adalah pribadi dengan sifat gengsi dan cerdik yang cukup tinggi sehingga tak mudah terhanyut permainannya. Namun ini tidak selamanya menjamin. Jika suatu saat kesabaran saya sudah habis, saya akan menuntutnya menjawab semua pertanyaan saya yang berawal dari sikap ganjilnya dengan cara saya sendiri!

Jumat, 26 Maret 2010

26 Maret 2010

Pukul 11.25. Handphone yang berada di sebelahku bergetar. Aku tak lagi terkejut. "Sudah saatnya," pikirku setelah membaca Si Pengirin SMS. Setengah hati ku buka inbox tadi. Bukan karena tidak ingin mengetahui apa isinya, tapi karena aku sudah tahu jika SMS tadi bernada kurang enak.


Bentar lagi kok..
Dua bulan lagi..
Haha
:D

Ganti baju..
Hehe
Nih udah mau berangkat..
Jangan nangis kamu..
Wkwkwk..

Aku tersenyum, getir rasanya. "Secepat ini, ya? Padahal semuanya baru dimulai lagi," aku menghela nafas yang entah sudah keberapa kalinya selama aku menghadap Axioo merahku ini.

Rabu, 24 Maret 2010

Antara Saya, Tepi, Meme, Nike, dan Tunda

XI Is 2, 19 Maret 2010



"Kamu mau jadi The Next ........ ?"

Jujur saja, saat kata-kata itu terlontar aku tidak dapat memikirkan apapun. Otakku membeku seketika.

"Sakit, tahu. Cukup aku aja yang ngerasain. Masa kamu mau buat orang sebaik dia ngerasain hal yang sama?" lanjutnya kemudian.

Well, dengan sukses temanku satu ini membuatku merasa bersalah karena telah melakukan suatu kejahatan besar.

"Kalu kamu memang nggak suka, kenapa kamu bawa dia sejauh ini? Ayolah, kamu harus belajar buka hati. Sampai kapan kamu mau dibayangi bocah itu?" timpal yang lain.

Oh, damn! Aku merasa bak terdakwa yang sedang mendengar tuntutan jaksa ata pelanggaran yang ku lakukan, ditambah semua mata dan konsentrasi pengunjung sidang yang terpaku padaku yang hanya bisa duduk, diam, dan menunduk kaku.

Logika memang menuntutku untuk melawan, membantah semua tuduhan yang dialamatkan padaku. "Bukan begitu maksudku. Aku sedang berusaha melawan bayangan ini semua. Ini bagian dari proses! Butuh waktu! Oleh karena itu, jika permintaan itu datang hari ini, tentu saja aku akan menolaknya. Aku belum mampu!"

"Mengapa tidak? Berapa lama lagi waktu yang kamu minta, yang kamu butuhkan? Waktu selama ini masih kurang buatmu?"

"Yaaaa... Karena memang aku belum siap, terutama untuk waktu dekat ini. Belum terpikir akan melangkah kesana. Entah sampai kapan," jawabku terbata-bata. Ya, aku mencari-cari alasan yang sama sekali tidak kuat. Aku sadar itu.

"Kalau seandainya dalam waktu dekat ini dia memintamu, berarti kamu akan memintanya buat nungguin kamu?"

"Mudah-mudahan tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini," kataku tidak menjawab pertanyaan mereka.

Minggu, 21 Maret 2010

Catatan 17 Maret 2010

Petang ini Anda cukup menggetarkan saya dengan sebuah sapaan yang menurut saya amat tidak beralasan. Bagaimana bisa Anda yang notabene tidak mengetahui apapun, sedikitpun ada apa diantara saya dan dirinya, tiba-tiba mengeluarkan sebongkah besar opini yang saya yakini keliru.

Bukan berarti saya menyalahkan Anda yang beropini, hanya saja saya merasa apa yang Anda lontarkan pada dasarnya hanya sebatas apa yang dapat Anda lihat di permukaan, tanpa tahu masalah apa yang mendasar. Kita memang dibebaskan untuk berasumsi, bukan? Tapi apalah artinya jika diisi dengan sudut pandang sepihak, ditambah lagi tidak ada kapasitas Anda untuk berseru dan menilai demikian.

Jujur saja saya sedikit geli mendengar apa yang Anda lebelkan pada diri saya. Sekali lagi itu hak Anda untuk memberi penilaian atas diri saya. Selama ini saya berusaha untuk bertahan, walau saya tahu perlahan Anda mencibir saya dan dirinya di belakang. Bahkan belakangan Anda menunjukkan rasa antipati itu pada saya dan dirinya. Saat itu pula saya masih tak bergeming karena saya masih menghargai Anda.

Sekarang, setelah semua ini berakhir dengan kondisi yang melenceng jauh dari skenario awal, yang bahkan saya dan dirinya yang selakuk pelakupun tidak memahami bagaimana jalan ceritanya, Anda datang, menghardik saya dengan segalam pemikiran Anda yang menuntut, menuntutnya untuk terus bermain peran, serta memaparkan semua alurnya dihadapan penonton.

Maaf, tidak semudah itu.

Too hard for me and him to tell you all and too complicated for them to understand. Just shut up!